Larangan Memukul Kentongan, Cerita Rakyat Jawa

Larangan Memukul Kentongan, Cerita Rakyat Jawa



GENMUGN.MY.ID
Udara sejuk daerah Tlogolele tiba-tiba berubah menjadi panas. Banyak penduduk desa yang kegerahan. Binatang-binatang pun banyak yang kepanasan. Kijang, menjangan, kera, harimau, ular, dan binatang lainnya keluar dari sarang. Mereka mencari tempat yang sejuk.

Baru saja Ki Jagabaya diberi tahu warganya yang baru pulang dari Pasar Sunggingan bahwa banyak binatang hutan yang turun dari gunung.

Ki Jagabaya terkejut.

"lni pertanda Gunung Merapi akan meletus," gumamnya

Perkiraan Ki Jagabaya tidak meleset. Tidak lama lalu terdengar suara gemuruh diikuti semburan asap tebal dari puncak . Gunung Merapi. Asap itu berbentuk seperti jamur barat yang besar sekali dan menjulang ke langit. Bersamaan dengan itu datang angin kencang menerjang desa Tlogolele. Ki Jagabaya segera memukul kentongan titir dengan maksud agar penduduk desa Tlogolele segera mengungsi. 

"Tong ... tong ... tong ... tong ... tong .. . tong ... tong .. . tong ... tong ... ," demikian suara kentongan titir itu.

Penduduk Tlogolele mendengar suara kentongan titir itu terkejut. Mereka gugup dan berhamburan keluar rumah tak tentu arahnya. Ada yang lari ke timur, barat, utara, dan selatan. Bahkan karena bingung dan gugup banyak penduduk yang terpeleset rriasuk ke dalam jurang. Banyaklah korban berjatuhan. 

"Tong ... tong ... tong .. . tong ... tong ... tong ... tong ... tong .. . tong .. . ," Ki Jagabaya memukul kentongan lagi sambil berteriak-teriak, "Wedus gembel 'kabut tebal yang sangat panas bentuknya seperti bulu kambing domba' datang .. . ! Wedus gembel datang ... ! Wedus gembel datang !"

Mendengar teriakan Ki Jagabaya itu penduduk Tlogolele semakin ketakutan. Tidak berapa lama bertiup angin sangat kencang diikuti · awan wedus gembel Tlogolele. Semua kehidupan yang terkena wedus gembel hangus menjadi abu atau melepuh. Banyak· orang dan binatang yang mati. Jerit dan tangis terdengar di manamana. 

Para perangkat desa dan sesepuh desa berkumpul di balai desa.

"Ki Lurah," kata Ki Jagabaya, "Banyak penduduk Tlogolele yang menjadi korban wedus gembel. Lima puluh orang meninggal , seratus orang luka parah, dan dua ratus luka ringan ."

Ki Lurah Tlogolele kelihatan.sangat sedih dan terpukul karena penduduknya tertimpa bencana. Ia mengusap air matanya lalu berkata, "Marilah kita rawat korban wedus gembel. Mereka yang sakit kita rawat bersama, sedangkan yang meninggal kita kubur secara baik-baik."

Para wanita yang terhindar dari bencana secara sukarela merawat korban yang terluka, sedangkan para lelaki menggali kubur untuk korban bencana yang meninggal. Upacara pemakaman dan pembacaan doa dipimpin oleh Ki Modin. 

Setelah upacara pemakaman selesai, Ki Lurah Telogolele dan bawahannya mengantarkan pulang Bapa Sepuh 'orang tua yang menjadi panutan' penduduk Tlogolele. Ia dapat berhubungan dengan para arwah nenek moyang penduduk Tlogolele. 

"Nak Mas Lurah," kata Bapa Sepuh begitu sampai di rumahnya, "aku ingin berkomunikasi dengan arwah para leluhur kita. Mudah-mudahan mereka memberi petunjuk sehingga malapetaka ini tidak terulang lagi." 

"Silakan, Bapa Sepuh," kata Ki Lurah dengan hormat.

Bapa Sepuh masuk ke tempat pemujaan. Ia bersemedi hendak berkomunikasi dengan arwah leluhur penduduk Tlogolele. Tidak lama kemudian datanglah arwah cikal bakal penduduk Tlogolele. 

"Cucuku, ada masalah apa?"

"Warga Tlogolele mohon petunjuk agar selamat dari bencana alam ini," pinta Bapa Sepuh.

"Cucuku, katakan kepada seluruh penduduk Tlogolele. Jika ada bahaya datang mereka tidak boleh ribut. Pikiran mereka harus tenang karena kalau ribut pasti akan banyak korban. Mulai hari ini penduduk Tlogolele tidak kuperbolehkan memukul kentongan. Bunyi kentongan titir itulah yang membuat penduduk Tlogolele gugup dan bingung."

"Kalau tidak boleh memukul kentongan, bagaimana cara memberi tahu penduduk jika ada bahaya? Dan, bagaimana pula cara menolak bahaya itu?" tanya Bapa Sepuh. 

"Jika bahaya itu datang, penduduk harus diberi tahu secara lisan dan tunjukkanlah mereka ke tempat pengungsian. Agar bahaya itu cepat berlalu, setiap penduduk harus membakar tempe serta menyalakan obor di depan rumahnya. Selain itu, Adakanlah kenduri sega gunung 'nasi tumpeng'."

Setelah selesai bersemedi Bapa Sepuh keluar dari tempat pemujaan. Ia melaporkan hasil semedinya kepada Ki Lurah di pendapa. Ki Lurah memberitahukan hal itu kepada penduduk Tlogolele. Para warga kemudian membuat sega gunung lalu dibawa ke rumah Ki Modin untuk dibacakan doa-doa.

Sampai sekarang penduduk Tlogolele masih mempercayai pantangan memukul kentongan. Mereka yakin jika tidak memukul kentongan wedus gembel tidak akan melanda desa Tlogolele.


0 Comments

Posting Komentar

Selamat datang di Genmugn.my.id, silahkan beri komentar Anda di artikel ini, berkomentarlah yang sopan dan sesuai isi artikel